Saat Anda menulis, memegang bolpoin dan mulai menorehkan di atas kertas, apa yang Anda gunakan untuk menulis?
Mungkin Anda langsung menjawab: tangan!
Ini kurang tepat karena tangan hanya bagian dari badan kita yang kita gunakan untuk menulis.
Bayangkan seseorang yang terlahir tanpa tangan atau mungkin dalam perjalanan hidupnya kehilangan tangan dan terpaksa melatih dirinya untuk menulis dengan menggunakan kaki.
Bisakah ia melakukannya?
Bisa. Tangan dan kaki yang digunakan untuk menulis adalah perpanjangan dari aktivitas otak kita. Tulisan tangan sering dianggap sebagai bentuk “tulisan otak” karena melibatkan koordinasi berbagai fungsi otak dan keterampilan motorik. Ketika kita menulis dengan tangan, otak kitalah yang pertama mengirimkan sinyal ke berbagai bagian tubuh, termasuk otot-otot di tangan dan jari kita, untuk menghasilkan gerakan dan bentuk huruf serta kata yang diinginkan.
Proses menulis dengan tangan (maupun kaki) dimulai dengan otak merumuskan pikiran dan ide, mengaktifkan area yang bertanggung jawab untuk bahasa dan kognisi. Area-area ini menghasilkan sinyal yang berjalan ke korteks motorik, yang mengontrol gerakan otot. Dari sana, sinyal-sinyal tersebut ditransmisikan ke otot-otot di tangan dan jari, memungkinkan kita untuk memanipulasi pena atau pensil dan menciptakan simbol tulisan yang diinginkan di atas kertas atau permukaan tulis lainnya.
Ilmu yang mempelajari bagaimana simbol (huruf yang ditulis) yang dihasilkan di kertas terkait dengan karakter, emosi, perilaku kita, adalah Grafologi. Grafologi sering dianggap sebagai neuro-science. Seseorang dengan kelainan syaraf, misal, akan memiliki tremor yang menghasilkan huruf-huruf yang dibentuk dengan goresan yang tidak mulus dikarenakan getaran tangan saat menulis. Demikian pula orang dengan emosi amarah tinggi, akan menghasilkan tekanan besar pada alat tulis yang menimbulkan ketebalan tinta tertentu. Terlepas dari perdebatan tentang sisi keilmuan atas analisis tulisan tangan, keakuratan pembacaan analisis tulisan tangan dapat membantu kita menemukan potensi diri, memilih pasangan, rekrutmen, berkomunikasi lebih baik dengan orang lain, bahkan memulai perjalanan diri untuk menjadi lebih baik melalui mental-healing.


Tinggalkan Balasan